SAMBILOTO DIOLAH MENJADI SERBUK SIMPLISIA, Langkah BBPPTP Medan Mendukung Pengembangan Pestisida Nabati Ramah Lingkungan
Diposting Jumat, 07 Agustus 2026 09:08 amPenulis: Wahyunita, S.P., M.Agr. – POPT Ahli Muda BBPPTP Medan
Pemanfaatan pestisida nabati semakin mendapat perhatian sebagai salah satu alternatif pengendalian Organisme Pengganggu Tumbuhan (OPT) yang lebih ramah lingkungan. Sejalan dengan upaya tersebut, Balai Besar Perbenihan dan Pelindungan Tanaman Perkebunan (BBPPTP) Medan melaksanakan kegiatan pembuatan serbuk simplisia tanaman sambiloto (Andrographis paniculata) sebagai bahan baku pestisida nabati.
Kegiatan ini merupakan bagian dari pengembangan koleksi Kebun Pestisida Nabati BBPPTP Medan sekaligus mendukung penerapan Pengendalian Hama Terpadu (PHT) melalui pemanfaatan sumber daya hayati lokal sebagai salah satu alternatif untuk mengurangi ketergantungan terhadap pestisida sintetis. Salah satu tanaman yang dikembangkan adalah sambiloto yang telah lama dikenal sebagai tanaman obat tradisional dan memiliki kandungan berbagai senyawa bioaktif yang berpotensi dimanfaatkan dalam pengembangan pestisida nabati.
Dalam pemanfaatannya sebagai bahan baku, tanaman sambiloto terlebih dahulu diolah menjadi simplisia. Menurut Farmakope Herbal Indonesia Edisi II (2017), simplisia adalah bahan alam yang telah dikeringkan, digunakan untuk pengobatan, dan belum mengalami pengolahan lebih lanjut. Secara khusus, simplisia nabati merupakan simplisia yang berasal dari tumbuhan utuh, bagian tumbuhan, atau eksudat tumbuhan, sedangkan serbuk simplisia nabati merupakan bentuk serbuk dari simplisia nabati dengan derajat kehalusan tertentu. Dengan demikian, pengolahan sambiloto melalui tahapan pemilihan bahan, pencucian, pemotongan, pengeringan, dan penghalusan merupakan bagian dari upaya menghasilkan bahan baku dalam bentuk serbuk yang lebih praktis untuk dimanfaatkan.
Tanaman sambiloto mengandung berbagai senyawa bioaktif, antara lain andrographolide, flavonoid, alkaloid, saponin, dan tanin, yang diketahui memiliki berbagai aktivitas biologis. Beberapa penelitian juga menunjukkan adanya aktivitas antifeedant (penghambat makan) dari senyawa atau fraksi tanaman sambiloto terhadap serangga tertentu. Potensi tersebut menjadi salah satu dasar pemanfaatan sambiloto sebagai bahan dalam pengembangan pestisida nabati.
Pengolahan tanaman sambiloto menjadi serbuk simplisia dilakukan untuk meningkatkan efisiensi pemanfaatan sebagai bahan baku pestisida nabati. Proses pengeringan hingga kadar air rendah membantu menghambat pertumbuhan mikroorganisme dan aktivitas enzim yang dapat mempercepat kerusakan bahan, sehingga kualitas metabolit sekunder lebih mudah dipertahankan selama penyimpanan. Bentuk serbuk juga memudahkan proses penimbangan, pengemasan, penyimpanan, transportasi, serta formulasi menjadi berbagai sediaan pestisida nabati sesuai kebutuhan. Selain itu, ukuran partikel yang lebih halus menghasilkan luas permukaan yang lebih besar sehingga proses ekstraksi senyawa aktif pada saat pembuatan larutan pestisida nabati menjadi lebih efisien dan lebih seragam. Standardisasi dalam bentuk simplisia juga mendukung konsistensi mutu bahan baku untuk kegiatan penelitian, pengujian efektivitas, maupun pengembangan teknologi pestisida nabati di masa mendatang.
Potensi Mengendalikan Hama Perkebunan
Sifat antifeedant pada sambiloto sangat berpotensi dimanfaatkan untuk menekan serangan hama pemakan daun, terutama dari kelompok Lepidoptera seperti ulat grayak (Spodoptera litura), ulat api pada kelapa sawit, maupun ulat penggulung daun. Ketika diaplikasikan pada tanaman, senyawa aktif sambiloto menyebabkan larva kehilangan nafsu makan sehingga intensitas kerusakan tanaman dapat ditekan secara bertahap.
Selain itu, kandungan metabolit sekundernya juga berpotensi memberikan efek terhadap beberapa jenis kumbang pemakan daun dan serangga pengisap, meskipun efektivitasnya pada kelompok terakhir relatif lebih rendah dibandingkan terhadap serangga pengunyah.
Proses Pembuatan Serbuk Simplisia
Pembuatan serbuk simplisia dilakukan secara bertahap dengan memperhatikan mutu bahan baku agar kandungan senyawa aktif tetap terjaga. Tahapan kegiatan meliputi:
- pemilihan tanaman sambiloto yang sehat;
- pemanenan bagian batang, daun, dan bunga;
- pencucian menggunakan air bersih;
- pemotongan bahan;
- pengeringan secara alami di tempat teduh dengan sirkulasi udara yang baik;
- penghalusan menggunakan blender hingga menjadi serbuk;
- pengayakan untuk memperoleh ukuran partikel yang seragam; serta
- penyimpanan dalam wadah tertutup yang diberi label identitas.
Gambar 1. Foto tahapan kegiatan pembuatan serbuk simplisia Sambiloto
Pengeringan tanpa paparan sinar matahari langsung menjadi salah satu tahapan penting karena bertujuan mempertahankan kandungan metabolit sekunder yang berperan sebagai bahan aktif pestisida nabati. Prosedur ini juga sejalan dengan prinsip pengolahan simplisia tanaman obat yang bertujuan menjaga kualitas bahan selama penyimpanan.
Penyimpanan Dilengkapi QR Code
Sebagai bentuk inovasi dokumentasi, serbuk simplisia yang dihasilkan disimpan dalam wadah kaca tertutup dan dilengkapi label berupa QR Code. Melalui kode tersebut, informasi mengenai bahan, tanggal penyimpanan, maupun data pendukung lainnya dapat diakses dengan lebih mudah sehingga mempermudah pengelolaan koleksi bahan pestisida nabati di BBPPTP Medan.
Mendukung Pengembangan Teknologi Pengendalian Ramah Lingkungan
Serbuk simplisia yang telah dihasilkan selanjutnya dimanfaatkan sebagai bahan baku dalam kegiatan uji aplikasi pestisida nabati yang diinisiasi secara mandiri sebagai bentuk kreativitas dan pengembangan pemanfaatan tanaman sambiloto di lingkungan BBPPTP Medan. Kegiatan tersebut didokumentasikan dalam laporan uji aplikasi pestisida nabati tanaman sambiloto terhadap ulat pemakan daun kelapa (Calliteara grotei) dan disampaikan kepada Tim Kerja Layanan Laboratorium Pelindungan BBPPTP Medan sebagai bahan dokumentasi serta pengembangan kegiatan. Uji aplikasi dilakukan secara sederhana menggunakan larutan berbahan serbuk sambiloto terhadap larva ulat pemakan daun yang diperoleh dari pertanaman kelapa. Hasil pengamatan awal menunjukkan adanya perubahan aktivitas makan hama setelah aplikasi, meskipun belum terjadi mortalitas selama periode pengamatan. Temuan awal tersebut menjadi bahan untuk pengembangan pengujian lebih lanjut dengan variasi konsentrasi, stadia larva, jumlah sampel, dan frekuensi aplikasi untuk memperoleh data efektivitas yang lebih terukur.
Pengembangan pestisida nabati berbasis tanaman lokal seperti sambiloto diharapkan mampu menjadi salah satu solusi pengendalian OPT yang lebih aman bagi lingkungan, mendukung konservasi musuh alami, serta mengurangi residu pestisida pada ekosistem perkebunan. Langkah ini sekaligus menunjukkan komitmen BBPPTP Medan dalam menghasilkan inovasi teknologi pelindungan tanaman yang berkelanjutan dan mudah diterapkan oleh masyarakat maupun pelaku usaha perkebunan.
Daftar Pustaka
Balai Penelitian Tanaman Rempah dan Obat. 1990. Teknik pengeringan dan penyimpanan simplisia. Bogor: Balai Penelitian Tanaman Rempah dan Obat, Kementerian Pertanian.
Hermawan, W., Kajiyama, S., Tsukuda, R., Fujisaki, K., Kobayashi, A., & Nakasuji, F. 1994. Antifeedant and antioviposition activities of the fractions of extract from a tropical plant, Andrographis paniculata (Acanthaceae), against the diamondback moth, Plutella xylostella (Lepidoptera: Yponomeutidae). Applied Entomology and Zoology, 29(4), 533–538.
Hermawan, W., Nakajima, S., Tsukuda, R., Fujisaki, K., & Nakasuji, F. 1997. Isolation of an antifeedant compound from Andrographis paniculata (Acanthaceae) against the diamondback moth, Plutella xylostella (Lepidoptera: Yponomeutidae). Applied Entomology and Zoology, 32(4), 551–559.
Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. 2017. Farmakope Herbal Indonesia Edisi II. Jakarta: Kementerian Kesehatan Republik Indonesia.
Maslahah, N. 2024. Standar simplisia tanaman obat sebagai bahan sediaan herbal. Warta BSIP Perkebunan, 2(2).
Tripathi, A. K., Prajapati, V., Jain, D. C., & Saxena, S. 2011. Antifeedant, oviposition-deterrent and growth-inhibitory activity of Andrographis paniculata against Spilarctia obliqua. International Journal of Tropical Insect Science.
Widiarta, I. N., Hermawan, W., Oya, S., Nakajima, S., & Nakasuji, F. 1997. Antifeedant activity of constituents of Andrographis paniculata (Acanthaceae) against the green rice leafhopper, Nephotettix cincticeps (Hemiptera: Cicadellidae). Applied Entomology and Zoology, 32(4), 561–566.







