BALAI BESAR PERBENIHAN DAN PROTEKSI TANAMAN PERKEBUNAN MEDAN
DIREKTORAT JENDERAL PERKEBUNAN

POTENSI REFUGIA SEBAGAI PENGENDALI ORGANISME PENGGANGGU TUMBUHAN (OPT)

Diposting     Rabu, 19 Oktober 2022 10:10 am    Oleh    Admin Balai Medan



Kristina Renawati T dan Wahyunita

Pertanian yang berbasis bahan kimia sintetik cenderung bersifat mencemari lingkungan. Pestisida merupakan salah satu bahan kimia sintetik yang umum digunakan menimbulkan banyak masalah di kemudian hari, misalnya terjadinya resistensi organisme pengganggu (OPT), menurunkan kualitas lingkungan menimbulkan masalah kesehatan dan sosial, dan masalah-masalah lain. Sementara itu, model pertanian monokultur dengan menanam varietas tanaman yang sama berpotensi menimbulkan ketidakstabilan ekosistem akibat rendahnya keragaman hayati yang menopang ekosistem tersebut. Timbulnya masalah ledakan hama di sebuah wilayah kemungkinan disebabkan oleh model pertanian monokultur. Oleh karena itu, alternatif strategi budidaya yang berbasis keragaman hayati tinggi kemudian banyak diusulkan oleh para ahli, misalnya melalui penyediaan ekosistem yang ramah terhadap musuh alami hama.      

Adanya serangga musuh alami dapat digunakan untuk mengendalikan populasi hama. Keberadaan musuh alami dapat ditingkatkan dengan menyediakan habitat dan sumber makanan bagi keberlangsungan hidupnya. Tumbuhan liar (refugia) di sekitar lahan pertanian merupakan habitat alternatif bagi serangga predator dan parasitoid. Tumbuhan berbunga merupakan tumbuhan yang berkemampuan memikat banyak serangga dan jasad pemanfaat tumbuhan lainnya, dan memiliki banyak manfaat bagi jasad-jasad ini, misalnya sebagai sumber pakan maupun tempat perhentian (untuk meletakkan telur atau menyembunyikan diri dari bahaya). Fungsi yang beragam ini menyebabkan pentingnya memperhatikan tumbuhan berbunga sebagai habitat khusus bagi serangga dan jasad lainnya, terutama di pertanaman yang selama ini dominan sebagai ekosistem monokultur.

Adanya tumbuhan berbunga akan mengundang berbagai jenis jasad dalam ekosistem tersebut memiliki bermacam-macam peran selain sebagai herbivora, misalnya sebagai musuh alami, polinator atau fungsi ekologis lainnya. Keberagaman fauna dalam hal ini berjenis-jenis serangga karena adanya tanaman berbunga akan menyebabkan terbentuknya ekosistem yang lebih stabil sehingga akhirnya mampu menjaga terjadinya keseimbangan ekosistem alam. Kehadiran tumbuhan berbunga sangat penting untuk melestarikan populasi musuh alami di suatu ekosistem seperti agroekosistem.

Pengelolaan agroekosistem yang sehat dan berkesinambungan merupakan usaha yang tidak mudah untuk dilaksanakan, terutama karena harus mengelola banyak hal sekaligus.  Salah satu cara yang dilakukan agar agroekosistem mendekati kondisi alami adalah dengan menerapkan sistem budidaya polikultur. Selain mengefisienkan penggunaan lahan untuk meningkatkan hasil pertanian, sistem ini diharapkan meningkatkan kehadiran parasitoid, predator dan kompetitor bagi hama sehingga dapat mengurangi kerusakan tanaman. Sistem polikultur juga dapat menurunkan potensi serangan hama pada tanaman melalui pembatasan fisis bagi hama untuk menemukan inangnya serta meningkatkan populasi dan aktivitas musuh alami pada agroekosistem.

Fungsi tanaman refugia sebagai mikrohabitat diharapkan mampu memberikan kontribusi dalam usaha konservasi musuh alami. Tumbuhan liar yang tumbuh di sekitar pertanaman tidak hanya berfungsi sebagai tempat berlindung (shelter) dan pengungsian musuh alami ketika kondisi lingkungan tidak sesuai, tetapi juga menyediakan inang alternatif dan makanan tambahan bagi imago parasitoid seperti tepung sari dan nektar. Salah satu cara untuk mempertahankan keanekaragaman hayati yaitu dengan mempertahankan keberadaan tumbuhan berbunga yang tumbuh. Tumbuhan berbunga ini diharapkan dapat menjadi tempat perlindungan serta sebagai penyedia pakan bagi musuh alami dari hama tanaman inang.

Penanaman refugia dapat menarik musuh alami terutama parasitoid sehingga dapat meningkatkan kelimpahan dan tingkat parasitasi parasitoid. Tumbuhan berbunga dapat menarik kedatangan serangga menggunakan karakter morfologi dan fisiologi dari bunga, yaitu ukuran, bentuk, warna, keharuman, periode berbunga, serta kandungan nektar dan polen. Kebanyakan dari serangga lebih menyukai bunga yang berukuran kecil, cenderung terbuka, dengan waktu berbunga cukup lama yang biasanya terdapat pada bunga dari famili compositae atau asteraceae. Aroma atau bau bunga bagi serangga polinator sulit untuk dikenali dibandingkan dengan warna bunga namun ada beberapa tumbuhan berbunga yang mampu menarik kedatangan parasitoid.

Jenis-jenis Refugia

Penggunaan serangga musuh alami untuk mengendalikan hama tanaman saat ini sedang gencar dianjurkan. Serangga musuh alami maupun hama tanaman itu sendiri secara naluri menyenangi tanaman yang mengeluarkan nektar/madu. Bau nektar akan menarik serangga musuh alami maupun hama tanaman sehingga serangga musuh alami maupun hama tanaman akan berkumpul kemudian musuh alami akan memakan hama tanaman tersebut.  Pada tanaman yang mengeluarkan nektar tersebut terjadi pengendalian hama secara alamiah sehingga terjadi keseimbangan alam.

Tanaman yang dijadikan sebagai refugia sebaiknya dipilih dengan kriteria antara lain memiliki bunga dan warna yang mencolok, regenerasi tanaman cepat dan berkelanjutan, benih atau bibit mudah tanaman diperoleh, mudah ditanam, dapat ditumpangsarikan dengan tanaman pematang lain,

            Gulma yang memiliki bunga ternyata bisa dijadikan refugia. Terutama gulma yang berasal dari family asteraceae seperti babadotan (Ageratum conyzoides), ajeran (Bidnes pilosa L), bunga tahi ayam (Tagetes erecta).       Juga dari famili  umbelliferae, leguminosae,  dan compositae, contohnya kubis (Brassica oleraceae L), bunga matahari (Helianthus annus L), okra (Abelmoschus esculentus L.), basil (Ocimum bassilicum L), terung (Solanum melongena), dan rumput sudan (Sorghum bicolor).

Hasil  penelitian Skirvin et al. (2011) menunjukkan bahwa gulma berbunga yang ditanam secara berselang-seling mampu meningkatkan populasi musuh alami dan dapat menekan populasi kutu afid. Penanaman tumbuhan berbunga Fagopyrum esculentum, Anethum graveolens, dan Vicia faba menguntungkan bagi serangga parasitoid Capidosoma koehleri (Encyrtidae:Hymenoptera) dan hama Phthorimaea operculella (Gelechiidae:Lepidoptera), sedangkan Phacelia tanacetifolia dan Tropaleoleum majus hanya menguntungkan bagi parasitoid saja. Lythrum salicaria, Caleopsis pubescens, dan Stachys palustris yang ditanam di sekitar parit dan selokan berpengaruh positif karena dapat menarik kedatangan Bombus muscorum.

Pada perkebunan kelapa sawit di Kalimantan Tengah, tumbuhan berbunga Turnera subulata diketahui menyebabkan kehadiran beberapa parasitoid  spesies hymenoptera. Enam spesies di antaranya hadir dengan jumlah lebih dari 30 ekor dalam 30 hari pengamatan. Namun spesies yang secara konsisten hadir setiap hari hanya satu, yakni Brachymeria latus (Sahari, 2012). Secara lebih spesifik, Hodge et al. (2011) menunjukkan bahwa ketertarikan parasitoid hymenoptera terhadap senyawa pertahanan tanaman β-amino asam butirat.

Pemilihan tumbuhan berbunga pada sistem polikultur harus memperhatikan fungsi dan peran dari tumbuhan di lingkungan, misalnya potensi untuk meningkatkan kedatangan musuh alami, meningkatkan kesuburan tanah, atau menekan populasi gulma. Telah dibuktikan pengujian keamanan biologis terhadap bunga matahari Helianthus annuus (Zhon et al. 2011). Selain itu penanaman tumbuhan berbunga harus memperhitungkan struktur dan komposisinya yang disesuaikan dengan kondisi lahan setempat. Periode berbunga dari masing-masing tumbuhan juga diperhatikan sehingga mampu menjaga populasi musuh alami tetap tinggi di sepanjang musim tanam.

KESIMPULAN

  1. Penanaman tumbuhan refugia sangat penting untuk melestarikan populasi musuh alami di suatu ekosistem seperti agroekosistem. Terbentuknya ekosistem yang lebih stabil, pada gilirannya akan menjaga terjadinya keseimbangan komponen ekosistem.
  2. Salah satu upaya untuk menciptakan ekosistem pertanian yang lestari adalah dengan memanfaatkan musuh alami sebagai pengendali populasi organisme pengganggu tanaman atau pengendalian hayati.
  3. Banyak tanaman dan tumbuhan merupakan sumber pakan langsung bagi organisme musuh alami, misalnya dengan menyediakan nektar dan polen, dan mengelola iklim mikro yang sesuai dengan kebutuhan hidup musuh alami.
  4. Kekayaan dan kelimpahan spesies predator dan parasitoid lebih tinggi pada lahan organik dibandingkan pada lahan konvensional. Hal ini didukung oleh ketersediaan vegetasi pada lahan organik yang menjamin keberadaan (establishment) dan keberlanjutan (sustainability) musuh alami, dan mengembangkan komunitas musuh alami menjadi lebih beragam.
  5. Dalam sebuah ekosistem pertanian berbasis konservasi, dukungan pada pertumbuhan tanaman dari faktor-faktor abiotik harus mampu bersinergi secara serasi dengan mekanisme pengendalian organisme pengganggu tanaman oleh musuh alami

DAFTAR PUSTAKA

Hodge, S., J.L. Ward, A.M. Galster, M.H. Beale, and G. Powell. 2011. The Effects of Plant Defence Priming Compound β amino butyric acid on Multitrophic Interaction with Insect Herbivore and Hymenopteran Parasitoid. Bio Control

Sahari, B. 2012. Komunitas Parasitoid Hymenoptera Pengunjung Bunga Turneria subulata pada Perkebunan Kelapa Sawit Kalimantan Tengah. Disertasi, Sekolah Pascasarjana, Institut Pertanian Bogor, Bogor.

Skirvin, D.J., K.L. Garde, K.W. Reynolds, and A. Mead, 2011. The Effect of within – Crop Habitat Manipulation on The Conservation Biological Control of Aphids in Field Grown Lettuce. Buletin of Entomological Research.

Pribadi, D. U., Noni, R., dan Arika, P. 2020. Penerapan Sistem Pertanaman Refugia Sebagai Mikrohabitat Musuh Alami Pada Tanaman Padi. Jurnal Solma 9 (01).

Zhon, Z, J.Y. Guo, X.W. Zheng, M. Luo, H.S. Chen and F.W. Han. 2011. Reevaluation in the Biosecurity of Ophraella communa against Sunflower Helianthus anuus. Biocontrol Science and Technology.


Bagikan Artikel Ini