BALAI BESAR PERBENIHAN DAN PROTEKSI TANAMAN PERKEBUNAN MEDAN
DIREKTORAT JENDERAL PERKEBUNAN

MONITORING OPT KELAPA SAWIT KEBUN PSR DI KABUPATEN SIMALUNGUN PROVINSI SUMATERA UTARA

Diposting     Senin, 27 Februari 2023 08:02 pm    Oleh    Admin2 BBPPTP Medan



Ida Roma T.U. Siahaan, Sry E. Pinem dan Desianty Dona N. Sirait

Kegiatan monitoring evaluasi hama/penyakit (OPT) pada kebun kelapa sawit milik kelompok tani PSR Koperasi PKS Tani Mandiri di Desa Bahal Batu Kecamatan Huta Bayu Raja Kabupaten Simalungun Provinsi Sumatera Utara merupakan bentuk pengawalan terhadap para petani PSR terkait pengelolaan OPT oleh Klinik Tanaman BBPPTP Medan. Klinik tanaman adalah salah satu layanan BBPPTP Medan kepada petani dengan cara melalui diskusi dan tinjauan lapangan ke kebun PSR petani. Tinjauan lapangan bertujuan untuk mendapatkan data tentang kondisi jenis dan serangan OPT yang ditemukan di lapangan maupun yang berpotensi dapat menyerang kelapa sawit.

Berdasarkan hasil diskusi dengan Ketua Koperasi PKS Tani Mandiri, Bapak Dr. (HC) Drs. K.M. Purba, S.Sos., M.P., diketahui bahwa saat ini koperasi yang didirikannya memiliki anggota sekitar 500 orang. Petani menerima program PSR dari pemerintah dalam tiga tahap. Tahap I seluas 166 Ha (118 petani) untuk tahun tanam 2019, Tahap II seluas 288 Ha (180 petani) tahun tanam 2020 dan Tahap III seluas 540 Ha (202 petani) namun masih dalam tahap proses sepanjang tahun 2022. Seluruh tanaman kelapa sawit yang diremajakan merupakan generasi kedua.

Gambar 1.  Diskusi Tim Layanan Klinik Tanaman dengan pengurus Koperasi PKS Tani Mandiri sebelum monitoring dan evaluasi ke lapangan.

Terdapat 3 (tiga) kebun PSR petani yang dikunjungi dengan tahun tanam 2019 dan 2020. Jenis-jenis dan tingkat serangan OPT yang ditemukan di dalam kebun yang dikunjungi tersebut ditampilkan pada Tabel 1.

Gambar 2. Pengamatan serangan OPT di kebun kelapa sawit

Tabel 1. Hasil monitoring dan evaluasi OPT kelapa sawit kebun PSR di Kabupaten Simalungun

Petani Lokasi Luas kebun /tahun tanam OPT Luas
serangan
Tingkat / intensitas serangan
Saendar Sirait Huta Tomuan Negeri Bahal Batu Kec.Huta Bayu Raja 1 Ha /
2019
Busuk buah MarasmiusKarat DaunOryctes 0,1 Ha   0,1 Ha
0,1 Ha
10 %  
12,5 %
3,375 %
Dian Permana Huta Tomuan Negeri Bahal Batu Kec.Huta Bayu Raja 1 Ha /
2019
Busuk buah MarasmiusKarat DaunTikusOryctes 0,1 Ha   0,1 Ha 0,02 Ha 0,1 Ha 6,25 %   10 %
1,25 % 1,25 %
Warsiman Huta Tomuan Negeri Bahal Batu Kec.Huta Bayu Raja 20 rante/ 2020 Oryctes 14 rante 28,75%

Berdasarkan Tabel 1 dapat diketahui bahwa ketiga kebun PSR yang dikunjungi terserang semuanya terserang kumbang badak atau Oryctes. Keberadaan Oryctes sangat dipengaruhi oleh tersedianya bahan organik yang dapat berasal dari batang busuk kelapa sawit, tunggul-tunggul yang busuk maupun rumpukan batang kelapa sawit yang tidak dicacah di dalam maupun di sekitar kebun. Tersedianya bahan organik di dalam kebun menjadi tempat berbiak dan sumber makanan Oryctes sehingga terjadi peningkatan populasinya. Kondisi ini sangat jelas terlihat di dalam kebun milik Bapak Warsiman dengan luas serangan 70%.

Selain itu ditemukan jenis serangan pada daun dengan gejala daun seperti berkarat terutama pada pelepah tua. Kondisi daun yang berkarat ini banyak ditemukan di dalam ketiga kebun.

Terdapat perbedaan pertumbuhan dan perkembangan tanaman kelapa sawit milik Bapak Saendar Sirait yang ditanam tahun 2019 tanpa tanaman sela dengan kebun kelapa sawit milik Bapak Dian Permana yang ditanam tahun 2019 dengan tanaman sela ubi kayu. Kelapa sawit milik Bapak Saendar Sirait tampak lebih subur dan hijau daunnya serta sudah mulai berbuah (panen) sedangkan kelapa sawit milik Bapak Dian Permana tampak agak merana, daun agak pucat menguning serta belum panen. Walaupun kedua petani tersebut memakai pupuk yang sama yaitu pupuk kimia dan pupuk organik cair dengan frekuensi yang sama. Faktor kompetisi unsur hara tanaman di dalam kebun dapat menjadi faktor yang menyebabkan terjadinya perbedaan pertumbuhan dan perkembangan pada kedua kebun tersebut. Selain itu, kebun Bapak Dian Permana juga dipenuhi dengan gulma yang cukup rimbun sehingga kelembaban di dalam kebun menjadi tinggi.

Perlu pendampingan dan penguatan terhadap kelompok tani PSR secara berkala agar petani mampu mengelola kebunnya dengan baik terutama dalam hal pengelolaan serangan hama/penyakit di kebunnya.


Bagikan Artikel Ini