BALAI BESAR PERBENIHAN DAN PROTEKSI TANAMAN PERKEBUNAN MEDAN
DIREKTORAT JENDERAL PERKEBUNAN

Pemanfaatan Seks Feromon dan Agensia Pengendali Hayati Dalam Mengendalikan Serangan Hama Oryctes Rhinoceros Pada Tanaman Kelapa Sawit (Elaeis guineensis Jacq.)

Diposting     Kamis, 30 Maret 2023 01:03 pm    Oleh    Admin2 BBPPTP Medan



Namsen S S Girsang* dan Eli Paska SIahaan

(*POPT Ahli muda di BBPPTP Medan)

Tanaman Kelapa sawit merupakan salah satu sumber devisa negara selain tanaman perkebunan lainnya. Tercatat bahwa produksi tanaman kelapa sawit pada tahun 2019 sebesar 47.120,20 ribu ton dengan luas areal 14 456,60 ha , tahun 2020 sebesar 48 296,90 ribu luas areal 14 858,30 ha dan pada tahun 2021 mengalami penurunan yaitu 46 223,30 ha ribu ton luas areal 14 663,60ha

Berbagai faktor dapat menyebabkan turunnya produksi tanaman Kelapa sawit. Faktor tersebut dapat berupa Dampak Perubahan Iklim, Kebakaran lahan, serangan Organisme Pengganggu Tanaman (OPT). Organisme Pengganggu Tanaman yang menyerang tanaman kelapa sawit dapat berupa serangan Penyakit seperti  penyakit busuk pangkal batang yang disebabkan oleh Ganoderma sp, Penyakit akar (Blast disease) disebabkan oleh jamur Rhizoctonia lamellifera dan Phytium sp., Penyakit garis kuning (Patch yellow) disebabkan oleh jamur Fusarium oxysporum, Penyakit tajuk (Crown disease) disebabkan oleh Penyebabnya yaitu gen keturunan dari tanaman induk. Selain Penyakit dapat juga disebabkan oleh Hama seperti Tungau yang menyerang tanaman kelapa sawit adalah tungau merah (Oligonychus), hama Ulat Api (Setora nitens) bagian diserang adalah daun, selain itu hama  Oryctes rhinoceros merupakan hama yang menyerang tajuk dan sangat berbahaya.

Serangan hama O. rhinoceros secara langsung dapat merugikan tanaman kelapa sawit baik tanaman belum menghasilkan (TBM) maupun tanaman menghasilkan (TM). Kumbang dewasa O. rhinoceros akan membuat lubang gerekan ke dalam pangkal pelepah muda dan kemudian memakan tunas muda beserta calon tunasnya. Hal tersebut dapat mengakibatkan kerusakan pada bagian inti batang dan serangan yang secara terus-menerus akan menyebabkan kematian pada tanaman. Pada tanaman kelapa sawit yang ditanam pada areal replanting dapat berakibat tidak tumbuh optimal hal ini disebabkan sebagian besar diserang kumbang tanduk (Oryctes rhinoceros L.). Persentase serangan kumbang tanduk tergolong tinggi yakni 80% pada tanaman umur 3 tahun dan 100% pada umur 1-1.5 tahun.

Oleh karena itu maka tindakan pengendalian sangat diperlukan untuk meminimalisir penurunan produksi tanaman kelapa sawit. Pengendalian dapat dilakukan secar kimia maupun secara biologi. Pengendalian secara kimia dapat menimbulkan efek residu, serta dapat juga menjadi tidak optimal.Pengendalian yang tidak optimal akan mendorong tingginya serangan kumbang tanduk. Secara umum dilaporkan Nuriyanti, Widhiono, & Suyanto (2017) pengendalian kumbang tanduk selama ini secara kimiawi belum memberikan hasil yang memuaskan. Pada saat ini dianjurkan pengendalian secara terpadu (PHT) yaitu dengan cara pengendalian biologi/hayati dan seks feromon, karena disamping tidak merusak lingkungan juga meminimalisir efek residu pestisida.

Terdapat beberapa seks feromon yang dapat digunakan dalam pengendalian hama Oryctes rhinoceros.

  1. Feromon sintetik ethyl-4-mathyloctanoata

   Aplikasi dilakukan dengan menggunakan perangkap dengan ketentuan 1 sachet (1 ml) per perangkap kebutuhan untuk 1 ha cukup dengan 2 perangkap.Perangkap yang digunakan dapat berupa pipa paralon (T= 2 m, L= 10 cm). Bagianbawah paralon ditutup dengan penutup pipa atau sepotong kayu. Bagian bawah pipa dibuat ± 4 lubang untuk sirkulasi air, dua lubang dibuat pada jarak 26 cm dari bagian atas pipa dan 130 cm dari bagian bawah pipa. Lubang masuk dibuat dengan ukuran lebar 20 cm dan tinggi 10 cm sebagai jalan masuk O. rhinoceros. Feromon sintetik digantung dengan menggunakan kawat  tepat di atas lubang masuk tersebut. Penggantian feromon dilakukan setiap tiga bulan.

  • feromon agregasi ethyl crysanthemumate

Penggunaan feromon agregasi ethyl crysanthemumate dilapangan yaitu dengan perangkap dosis  1 sachet (1 ml) per perangkap kebutuhan untuk 1 ha cukup dengan 2 perangkap.Jenis perangkap dapat berupa pipa paralon (T= 2 m, L= 10 cm). Bagian bawah paralon ditutup dengan penutup pipa atau sepotong kayu. Bagian bawah pipa dibuat ± 4 lubang untuk sirkulasi air, dua lubang dibuat pada jarak 26 cm dari bagian atas pipa dan 130 cm dari bagian bawah pipa. Lubang masuk dibuat dengan ukuran lebar 20 cm dan tinggi 10 cm sebagai jalan masuk O. rhinoceros. Feromon sintetik digantung dengan menggunakan kawat  tepat di atas lubang masuk tersebut. Penggantian feromon dilakukan setiap tiga bulan

  • Seks Feromon dari Nenas

   Nenas dipotong bentuk dadu dengan berat  500 gr. Untuk perangkap dapat dibuat dari bambu, bambu dipotong dengan ukuran : ukuran 240 cm, Seng plat ukuran 28 x 20 cm. Ember penampung , kawat pegangan yang ada pada ember diganti dengan kawat jemuran ukuran 1 cm yang lebih panjang. Bagian bawah ember dilubangi dengan menggunakan paku serta lubangi cup kepal pada bagian sisi kiri, kanan dan bawah menggunakan paku. Selanjutnya potongan seng plat dirangkai menjadi berpasang-pasangan, setiap pasang terbentuk huruf dan langsung dipasang pada setiap ember. Kemudian gantungkan cup kepal untuk buah nanasnya pada setiap perangkap/ember menggunakan kawat pada pertemuan seng platnya dan perangkap dipasang dilapangan dengan tinggi 240 cm.

Selain penggunaan Seks Feromon  dapat juga dikendalikan dengan menggunakan Metharizium. Jika dilapangan ditemukan adanya larva Oryctes rhinoceros yang mati dan telah terinfeksi Metarhizium anisopliae maka larva terinfeksi ini dapat dimanfaatkan. Larva rhinoceros yang ditemukan mati atau terinfeksi jamur Metarhizium anisopliae  dikumpulkan secara terpisah. Larva O. rhinoceros tersebut kemudian diblender atau dihancurkan, lalu ditambahkan air 100 kali berat larva O. rhinoceros yang ditemukan terinfeksi.. Larutan larva O. rhinoceros tersebut kemudian disiramkan kembali ke tempat/sarang O. rhinoceros agar larva O. rhinoceros pada sarang tersebut juga terinfeksi oleh M. anisopliae.

Referensi

Badan Pusat Statistik . 2023.Produksi Tanaman Perkebunan (Ribu Ton), 2019-2021.BPS Indonesia.

Bagas,GM.2023. Pengendalian Hama Oryctes rhinoceros di Perkebunan Kelapa Sawit. Artikel  Sawit Sumber Mas Sarana.

Efendi,S. 2021. Aplikasi Pengelolaan Hama Terpadu Kumbang Tanduk (Oryctes Rhinoceros L.) Pada Kelapa Sawit di Nagari Giri Maju Kabupaten Pasaman Barat. Jurnal Hilirisasi IPTEKS. Website. https://hilirisasi.lppm.unand.ac.id., e-ISSN: 2621-7198 Vol. 4 No.3, September 202.

Karantina,K.2020. Jenis-jenis Hama dan Penyakit Pada Tanaman Kelapa Sawit. Corteva Agriscience.

Nuriyanti, D. D., Widhiono, I., & Suyanto, A. 2017. Faktor-faktor ekologis yang berpengaruh terhadap struktur populasi kumbang badak (Oryctes rhinoceros L. ). Biosfera, 33(1), 13. https://doi.org/10.20884/1.mib.2016.33.1.310

Alouw J,C.,2007. Feromon dan Pemanfaatannya Dalam Pengendalian Hama Kumbang Kelapa Oryctes rhinoceros (Coleoptera: Scarabaeidae). Buletin Palma No. 32, Juni 2007


Bagikan Artikel Ini