BALAI BESAR PERBENIHAN DAN PROTEKSI TANAMAN PERKEBUNAN MEDAN
DIREKTORAT JENDERAL PERKEBUNAN

MANFAAT PESTISIDA NABATI YANG DITEMUKAN DI DESA TANJUNG REJO KEC. PERCUT SEI TUAN KAB. DELI SERDANG PROVINSI SUMATERA UTARA

Diposting     Sabtu, 30 September 2023 06:09 pm    Oleh    Admin Balai Medan



Kristina Renawati Turnip dan Ferry AW Siagian
(POPT Ahli Muda BBPPTP Medan)

Penggunaan pestisida kimia berlebihan dan tidak tepat menyebabkan dampak negatif yang cukup serius, yaitu menyebabkan resistensi hama dan pencemaran lingkungan hidup. Jika memang diperlukan pestisida untuk mengendalikan hama tanaman, maka seharusnya menggunakan pestisida yang terbuat dari bahan-bahan nabati (pestisida nabati) yang terbukti mampu mengatasi permasalahan hama dan penyakit tanaman dan tidak merusak lingkungan hidup. Jika dilihat dari aspek ekonomi, untuk penggunaan pestisida nabati akan lebih menghemat biaya pengeluaran petani sebab biaya pembuatannya lebih murah dibandingkan jika membeli pestisida kimia.
Pembuatannya tergolong mudah, jadi petani dapat membuatnya secara sederhana, meskipun tidak terlalu banyak mengerti tentang ilmu pertanian. Dari sisi kesehatan, jelas pestisida nabati ini mempunyai dampak lebih aman untuk lingkungan sekitar dan residunya mudah terurai. Sedangkan untuk kekurangan pestisida alami ini umumnya tidak secara langsung mematikan hama penggangu tanaman, memerlukan proses waktu karena itu sebaiknya digunakan secara kontinu (berkelanjutan). Beberapa pestisida nabati yang diperoleh dari alam telah banyak ditemukan, salah satu contohnya adalah bahan alami dari minyak atsiri dari serai wangi yang dapat digunakan untuk mengendalikan organisme pengganggu tanaman (OPT). Serai wangi atau Cymbopogon nardus L. merupakan bahan alami yang mudah terurai dan tidak menimbulkan residu sehingga aman terhadap lingkungan dan produk pertanian.
Hasil kunjungan yang dilakukan petugas BBPPTP Medan ke kebun petani di Desa Tanjung Rejo Kec. Percut Sei Tuan Kab. Deli Serdang Prov. Sumatera Utara dalam rangka mencari dan mengambil bibit pestisida nabati yang ada di lapangan (di sekitar kebun petani maupun di tepi atau pinggir jalan yang dilalui) yaitu :

2.1 Serai Wangi (Cymbopogon nardus L.)
Serai wangi termasuk dalam famili graminae merupakan salah satu jenis tanaman penghasil minyak atsiri, banyak ditanam sebagai tanaman konservasi dan tanaman sela pada perkebunan kopi maupun kakao. Minyak atsiri dari serai wangi mampu menghambat perkembangan bahkan membunuh OPT. Beberapa jenis hama mampu dikendalikan dengan minyak atsiri serai wangi adalah kutu sisik, aphids, lalat buah, kutu kebul, thrips, kutu dompolan dan penggerek buah jeruk.

Sebagai pengendali hama, minyak atsiri serai wangi mempunyai beberapa mekanisme dalam mengendalikan hama, diantaranya adalah sebagai:
 Penolak atau repellent. Minyak atsiri dari serai wangi mampu mengacaukan aroma penarik yang dikeluarkan tanaman inang sehingga pergerakan hama menuju tanaman inang tersebut dapat dialihkan. Serai mengandung senyawa sitronela yang tidak disukai kutu-kutuan dan berbagai serangga hama lain.
 Penghambat makan. Minyak atsiri dari serai wangi yang diaplikasikan pada tanaman inang mampu menekan peran bahan perangsang makan yang dihasilkan tanaman tersebut dan menimbulkan ketidaksukaan sehingga dikonsumsi hama pada tanaman inang menjadi jauh berkurang dari biasanya. Akibatnya pertumbuhan hama dan perkembangan populasi menjadi terhambat.
 Pembunuh hama. Minyak atsiri mempunyai efek iritasi, artinya menyebabkan kerusakan pada integumen hama sehingga terjadi proses transpirasi tinggi. Hal ini dapat mengakibatkan kematian pada hama tersebut.

Semua bagian tanaman serai wangi yang meliputi bagian daun, batang dan akar dapat digunakan untuk membuat pestisida nabati. Untuk pembuatannya sendiri sangatlah mudah yaitu dengan cara menghancurkan bagian daun, batang dan akar tanaman tersebut hingga halus. Kemudian dilanjutkan dengan merendamnya ke dalam air bersih selama 24 jam. Setelah selesai, dilakukan penyaringan untuk memisahkan endapan, dan air rendamannya. Biasanya untuk membuat pestisida nabati sebanyak 200 gram serai wangi memerlukan campuran air bersih sebanyak 10 liter.

Pengaplikasiannya dapat dilakukan dengan cara menyemprotkan secara merata pada tanaman yang terserang. Sebelumnya, pestisida nabati perlu ditambahkan perata atau adjuvant sebanyak 2 cc /liter air. Aplikasi penyemprotan dapat dilakukan dengan interval waktu setiap 2-3 hari sekali.

2.2 Sirsak (Annona muricata L.)
Sirsak merupakan tanaman tahunan yang dapat tumbuh dan berbuah sepanjang tahun, jika kondisi air tanah terpenuhi selama pertumbuhannya. Di dalam tanaman ini terkandung senyawa acetogenins yang bermanfaat. Senyawa ini tidak hanya terkandung pada buah, tetapi hampir seluruh bagian pada tanaman sirsak baik itu yaitu daun, batang, akar maupun bijinya. Kandungan acetogenins terdapat pada ekstrak daun sirsak dapat dimanfaatkan sebagai pestisida nabati yang ramah lingkungan. Sirsak (Annona muricata L). Daun dan biji sirsak dapat berperan sebagai insektisida, larvasida, repellent (penolak serangga), dan antifeedant (penghambat makanan) dengan cara kerja sebagai racun kontak dan racun perut.

Ekstrak daun sirsak dapat dimanfaatkan untuk menanggulangi hama belalang dan hama-hama lainnya. Kandungan aktif yang terdapat pada sirsak yaitu buah yang mentah, biji, daun dan akarnya mengandung senyawa kimia annonain yang bersifat racun pada serangga. Senyawa aktif dari daun A. muricata yaitu tanin dan acetogenin mulai bekerja ketika makanannya sampai ke usus serangga. Tanin menghambat aktivitas enzim pada saluran pencernaan serangga sedangkan senyawa acetogenin meracuni sel-sel saluran pencernaan akhirnya serangga mengalami kematian. Tanin merupakan senyawa yang dapat menghambat ketersediaan protein dengan membentuk kompleks yang kurang dicerna oleh serangga, senyawa acetogenin bersifat sebagai toksin dapat meracuni sel-sel lambung serangga.

Di dalam daun sirsak mengandung senyawa aktif annonain dan resin efektif mengendalikan hama trips, dan jika ditambahkan dengan daun tembakau, maka pestisida daun sirsak ini mampu menangani masalah belalang dan ulat. Sedangkan jika dicampur dengan jeringau dan bawang putih maka akan mampu mengendalikan hama wereng. Membuat pestisida nabati dari daun sirsak untuk mengendalikan hama trips yaitu dengan cara :
1. Siapkan sebanyak 110 lembar daun sirsak, kemudian ditumbuk sampai halus;
2. Rendamlah hasil tumbukan daun sirsak tersebut ke dalam 5 liter air dan campur dengan 15 gram deterjen, kemudian diaduk hingga deterjen larut;
3. Diamkan larutan tersebut selama satu setengah hari (sehari semalam);
4. Setelah itu disaring dengan menggunakan kain, dan disimpan ke dalam jirigen;
5. Untuk penggunaan (aplikasinya) diencerkan larutan yang telah dibuat tersebut sebanyak 1 liter ke dalam air 10 liter dan larutan siap digunakan
Pembuatan pestisida nabati daun sirsak, jeringau dan bawang putih untuk pengendalian hama wereng coklat, yaitu:
1. Tumbuk halus sebanyak 50 daun sirsak, segengam jeringau dan 20 siung
bawang putih
2. Rendamlah tumbukan tersebut ke dalam 20 liter air dan tambahkan 20 gr
deterjen selama 2 hari, aduk hingga tercampur
3. Setelah itu disaring larutan tersebut dengan kain dan siap digunakan
Pembuatan pestisida nabati daun sirsak dan daun tembakau untuk pengendalian hama ulat dan belalang, yaitu :
1. Tumbuk halus sebanyak 60 daun sirsak dan 10 daun tembakau
2. Direndam ke dalam sebanyak 20 liter air yang di tambahkan 20 gr deterjen selama satu hari
3. Disaring dengan kain dan larutan siap digunakan.

2.3 Mindi (Melia azedarach)
Daun mindi mengandung senyawa glokosida flavonoid dengan aglikon quersetin yang bersifat sebagai insektisida sebagai antifedant terhadap serangga dan menghambat perkembangan serangga. Selain sebagai insektisida, daun mindi dapat digunakan sebagai fungisida karena mengandung sulfur, azadirachtin, nimbin, nimbidin, alkaloid, saponin, flavonoid, tannin, dan minyak atsiri mampu mengendalikan penyakit tanaman yang disebabkan oleh patogen Aspergillus flavus, Fusarium oxysporum, Fusarium solani, Fusarium verticilliodies, dan Sclerotinia sclerotio

Cara pembuatan pestisida nabati dari daun mindi yaitu :
a. Direndam sebanyak 150 gram daun mindi pucuk segar dalam 1 liter air selama 24 jam.
b. Larutan hasil perendaman disaring dengan kain halus dan hasil penyaringan disemprotkan ke tanaman.

Pembuatan pestisida nabati dari daun mindi dapat juga ditumbuk bersama bahan lain seperti daun mimba, tembakau atau daun sirsak kemudian direndam dalam air selama beberapa hari. Air hasil saringan itulah yang digunakan sebagai pestisida alami. Kegunaan pestisida nabati mindi adalah dapat mengusir belalang, rendaman biji mindi segar dapat mengendalikan hama ulat Plutella xylostella.


Bagikan Artikel Ini