BALAI BESAR PERBENIHAN DAN PROTEKSI TANAMAN PERKEBUNAN MEDAN
DIREKTORAT JENDERAL PERKEBUNAN

MEKANISME Ganoderma boninense Pat. MENURUNKAN PRODUKTIVITAS TANAMAN KELAPA SAWIT

Diposting     Senin, 30 Oktober 2023 09:10 am    Oleh    Admin2 BBPPTP Medan



Wahyunita dan Namsen S.S. Girsang (POPT Ahli Muda dan POPT Ahli Madya)Kelapa sawit merupakan salah satu tanaman penghasil minyak nabati. Minyak kelapa sawit adalah minyak nabati yang paling hemat sumber daya. Dilansir dari blog Smart-tbk.com, bahwa pohon kelapa sawit membutuhkan luas lahan jauh lebih sedikit untuk menghasilkan produktivitas panen yang sama dengan tanaman penghasil minyak nabati lain. Demikian juga menurut Siregar (Kemenperin), apabila dibandingkan, maka produktivitas minyak yang dihasilkan dari 1 Ha lahan sawit dapat menghasilkan 35 kali lebih banyak dari jagung, 13 kali lebih banyak dari kedelai, 6 kali lebih banyak dari biji bunga matahari, 5 kali lebih banyak dari zaitun dan canola, 3 kali lebih banyak dari jarak pagar, serta 2 kali lebih banyak dari kelapa. Perbandingan jumlah tanaman dan produktivitas dari beberapa tanaman penghasil minyak nabati di dunia dapat dilihat pada Tabel 1.

Kelapa sawit merupakan salah satu komoditas andalan Indonesia yang tumbuh baik di daerah tropis di sepanjang garis khatulistiwa sehingga memenuhi syarat-syarat tumbuhnya. Dari hasil rekonsiliasi terkait luasan tutupan kelapa sawit nasional Tahun 2019, teridentifikasi bahwa terdapat luasan lahan kelapa sawit sekitar 16,38 juta Ha dengan distribusi luas perkebunan rakyat (swadaya/bermitra) seluas 6,72 juta Ha (41%), perkebunan negara sebesar 0,98 juta (6%), dan perkebunan besar swasta seluas 8,68 juta Ha (53%) (Kemenperin).

            Hilirisasi industri kelapa sawit nasional merupakan salah satu bagian penting dalam pembangunan jangka panjang industri pengolahan sawit. Hilirisasi industri kelapa sawit dilakukan dengan peningkatan nilai tambah secara optimal dari seluruh bagian tanaman sawit dengan diolah menjadi produk turunannya. Akan tetapi salah satu kendala yang dapat menyebabkan terjadinya penurunan produktivitas kelapa sawit, ialah adanya serangan penyakit busuk pangkal batang (BPB) disebabkan oleh jamur patogen Ganoderma boninense.

            Ganoderma sebagai salah satu jenis jamur dari divisi Basidiomycota dan famili Ganodermataceae, merupakan organisme eukariotik yang digolongkan ke dalam kelompok jamur sejati. Dinding sel Ganoderma terdiri atas kitin, tetapi sel nya tidak memiliki klorofil. Ganoderma mendapatkan makanan dari bahan organik di sekitar tempat tumbuhnya. Bahan organik tersebut akan diubah menjadi molekul-molekul sederhana dan diserap langsung oleh hifa (Wikipedia).

            Jamur Ganoderma merupakan patogen soil borne, memiliki sifat parasitik sekaligus saprofitik tumbuhan, sangat menarik karena dua perannya yang saling bertentangan, yaitu efek berbahaya dan bermanfaat. Sebagai parasit tanaman, Ganoderma dapat menyebabkan busuk akar dan batang pada perkebunan tanaman tropis dan hutan. Ganoderma juga dikenal sebagai jamur pelapuk putih yang dapat menyebabkan busuk kayu dengan menghancurkan lignin. Sebagai saprofit, jamur Ganoderma telah lama digunakan sebagai bahan obat bagi kesehatan manusia. Serangan Ganoderma pada tanaman kelapa sawit berpengaruh terhadap produksi, oleh karena itu pengendalian Ganoderma pada tanaman kelapa sawit harus segera dilakukan karena menyebabkan busuk akar dan batang sehingga dapat membuat tanaman kelapa sawit dengan perlahan akan mati.

            Penyakit BPB telah menyebabkan kematian tanaman sampai 80% dari seluruh populasi kelapa sawit, dan menyebabkan penurunan produksi kelapa sawit per unit area (Susanto et al., 2013). Pada awalnya penyakit BPB terjadi pada tanaman tua, pada generasi tanam yang sudah berulang-ulang seperti generasi tanam ke-3 yang disebabkan karena inokulum Ganoderma berkembang dan bertahan di tanah dalam jangka waktu yang lama. Namun saat ini, G. boninense juga menyerang tanaman yang lebih muda dan bahkan di pembibitan. Menurut Zakaria et al. (2005) pada kebun peremajaan, kematian tanaman akibat BPB dapat mencapai 60%. Gejala penyakit BPB akan terlihat setelah 6 sampai 12 bulan setelah menginfeksi inangnya. Tetapi dalam perkembangannya, saat ini telah dipahami bahwa patogen ini juga menyerang tanaman pada saat perkecambahan, pembibitan dan tanaman belum menghasilkan (<1 tahun) (Alviodinasyari et al., 2015). Hal tersebut menyebabkan penurunan produktivitas kelapa sawit per satuan luas.

            Serangan jamur G. Boninense menimbulkan dua kerugian, yaitu kerugian langsung dan tidak langsung. Kerugian langsung berhubungan dengan produksi yang rendah karena kematian tanaman, sedangkan kerugian tidak langsung berhubungan dengan penurunan berat buah kelapa sawit. G. boninnense yang menyerang tanaman membuat berat batang tanaman menjadi berkurang yang pada akhirnya membuat tanaman menjadi tidak berbuah (Susanto, 2011). Serangan penyakit BPB berdampak terhadap terganggunya transportasi air dan unsur hara dari dalam tanah, terjadi klorosis pada daun, massa batang berkurang atau keropos, tanaman menjadi tidak mampu lagi berbuah dan akhirnya menimbulkan kematian (Susanto et al., 2013).

            Pangkal batang yang membusuk merupakan gejala umum dari penyakit yang disebabkan oleh G. boninense pada tanaman kelapa sawit. Pada beberapa kasus, serangan Ganoderma menyebabkan gejala busuk batang atas atau penyakit upper stem rot. Gejala penyakit busuk pangkal batang dan penyakit busuk batang atas umum ditemukan pada lokasi kebun yang sama. Perbandingan antara penyakit busuk batang atas dan busuk pangkal batang berkisar antara 1:10 sampai 1:1. Pada beberapa kebun kelapa sawit, penyakit busuk pangkal batang atas lebih banyak daripada busuk pangkal batang, khususnya pada daerah yang menggunakan bahan tanaman yang rentan terhadap penyakit ini (Hasan et al. 2005; Hoong, 2007).

Gambar 1. Gejala serangan G. Boninense di pertanaman kelapa sawit
di Kabupaten Serdang Bedagai
A)    jumlah daun tombak yang tidak membuka lebih dari 2; B) pelepah patah, mengering dan menggantung;
C) ditemukan basidiokarp pada pangkal batang kelapa sawit

Infeksi Ganoderma pada tanaman kelapa sawit dikelompokkan dalam empat stadium, dengan gejala pada masing-masing stadium adalah sebagai berikut (www.pkt-group.com):

  1. Stadium 1, daun berwarna hijau kekuningan dan kusam, layu seperti kekurangan air dan unsur hara. Pertumbuhan daun bagian pucuk terhambat sehingga permukaan tajuk daun rata. Pertumbuhan bunga betina dan buah menjadi terhambat, kebanyakan muncul bunga jantan.
  2. Stadium 2, daun berwarna hijau pucat kekuningan dan kusam, pelepah bawah dan anak daun mengering dan munculnya 2 daun tombak yang tidak membuka. Pada pangkal batang dan akar telah tumbuh hifa dan miselia Ganoderma yang menyebar pada pertemuan ketiak pelepah sawit. Hingga 50% jaringan pembuluh xilem dan floem tidak berfungsi lagi untuk menyerap unsur hara dan air dari dalam tanah, sehingga pertumbuhan tanaman menjadi terhambat. Produksi TBS menurun 50% dan proses kematangan TBS terganggu, TBS belum cukup matang sudah memberondol sehingga berpengaruh terhadap rendemen TBS yang dipanen.
  3. Stadium 3, pelepah dan anak daun kelapa sawit mengering dan patah pada tingkat pelepah ke 2 sampai dengan ke 6 dan di bagian pucuk muncul tiga daun tombak yang tidak membuka. Pada pangkal batang tanaman sawit telah tumbuh basidiokarp Ganoderma, pembuluh xilem dan floem 75% tidak berfungsi lagi, sehingga translokasi air dan hara dari perakaran menuju batang dan daun menjadi terhambat. Pertumbuhan vegetatif sudah terhenti, yang menyebabkan kehilangan produksi sebesar 80%.

Stadium 4, telah tumbuh basidiokarp mengelilingi pangkal batang atau pohon sawit. Seluruh daun berpatahan dan mengering serta menggantung di pohon. Jaringan pembuluh xylem dan floem pada akar dan batang mati dan tidak berfungsi lagi. Dalam jangka 6 sampai dengan 12 bulan tanaman akan tumbang dan mati secara total, dengan meninggalkan inokulum Ganoderma, yang siap menginfeksi pohon sehat radius 200 meter.

Gambar 2.  Kegiatan Monitoring penyakit BPB kelapa sawit di Kabupaten Serdang
  Bedagai pada kegiatan SILAP OPT BBPPTP Medan 2023

Ganoderma merupakan jamur yang memiliki basidiokarp berbentuk seperti kipas, bergelombang, dan terdapat lingkaran tahunan dengan ukuran diameter mencapai 30 cm. Pada bagian permukaan, warna cendawan ini cenderung cokelat keunguan, sedangkan pada bagian tepi, warnanya terlihat keputihan. Saat matang, warnanya akan mengkilat. Sementara itu, bagian bawah badan cendawan ini berwarna putih kekuningan dengan pori-pori yang terlihat jelas. Bagian ini merupakan tempat terbentuknya basidium spora yang dapat bertahan di dalam tanah selama bertahun-tahun dalam keadaan dorman (berhenti tumbuh). Dengan letak yang saling berdekatan, pertumbuhan cendawan ini akan membentuk susunan yang besar di tumbuhan inangnya. Ganoderma diketahui memiliki ukuran basidiokarp yang besar, bertahan lama, memiliki kurung kayu yang dilapisi lignin dan kasar, dan terkadang memiliki batang. Tubuh buah biasanya tumbuh berbentuk seperti kipas pada batang-batang pohon, berdinding ganda, dan apabila spora dipotong akan terlihat berwarna kuning sampai coklat pada lapisan dalamnya (gokomodo.com).

            Basidiospora diproduksi dalam jumlah produktif (2-11,000/m3) selama 24 jam periode sampel, dengan rilis maksimal di malam hari. Dengan demikian, dapat dipastikan terdapat inokulum potensial yang konstan akan menyerang luka-luka akar tanaman di seluruh perkebunan (Cooper et al, 2011). Wilayah yang terinfeksi di dasar batang menunjukkan perubahan warna coklat dengan perimeter wilayah terinfeksi dibatasi oleh band coklat gelap. Penetrasi lapisan luar akar oleh G. boninense tidak mudah dilihat secara mikroskopis karena sifat non-sinkron infeksi. Entri diikuti oleh penetrasi (masuknya) hifa ke dalam korteks bagian yang lebih mudah terdegradasi dan perkembangan memanjang di sepanjang akar. Selama kolonisasi awal pada jaringan inang, G. boninense muncul untuk bertindak sebagai hemibiotroph, dengan berlimpah, hifa diperbesar dalam sel yang baru dijajah terutama di korteks bagian dalam. Selanjutnya terjadi kerusakan besar dinding sel kortikal. Dinding sel diserang di beberapa daerah lokal oleh patogen. Semua lapisan dinding sel diserang yang mengakibatkan kerusakan total dari dinding sel termasuk lamella tengah. Fase ini difasilitasi oleh interaksi antar dan intra-seluler dan intramural dari akar kelapa sawit (Flood et al., 2011). Dikatakan bahwa penyakit busuk batang atas disebarkan melalui basidiospora melalui udara (Flood et al. 2002). Meskipun demikian, peran dari basidiospora di dalam inisiasi penyakit belum diketahui secara pasti (Hasan et al., 2005).

            Secara sederhana, penurunan produktivitas tanaman kelapa sawit akibat terserang penyakit BPB yang disebabkan oleh jamur patogen G. boninense, terjadi karena jamur patogen ini bersifat parasit yang mengambil nutrisi dari tanaman inang untuk memenuhi kebutuhannya untuk tumbuh. Akibat penetrasinya pada tanaman inang, akar dan batang tanaman inang mengalami pembusukan. Dan karena nutrisi yang diambil oleh jamur patogen ini, tanaman inang mengalami hambatan dalam transportasi air dan unsur hara dari dalam tanah, yang selanjutnya menyebabkan klorosis pada daun, massa batang berkurang atau keropos, sehingga tanaman menjadi tidak mampu lagi berbuah karena proses metabolisme dalam tubuhnya terganggu, dan akhirnya menimbulkan kematian tanaman kelapa sawit.


Bagikan Artikel Ini